Plastik Ramah Lingkungan dari Jagung

Limbah tongkol jagung yang biasanya langsung dibuang setelah bijinya diambil ternyata masih bisa diambil manfaatnya. Tongkol-tongkol jagung tersebut bisa diolah menjadi bahan pembuatan plastik terbiodegradasi.

Lewat temuan itulah Yesaya Christian Deodatus meraih penghargaan sebagai wisudawan aktif berprestasi dari Universitas Katolik Widya Mandala. “Indonesia itu banyak memiliki limbah tongkol jagung, karena itu saya mencoba memanfaatkannya,” ujar Yesaya, salah satu dari 643 mahasiswa Widya Mandala yang diwisuda pada Sabtu (6/11) pagi tadi.

Karya ilmiah berjudul “Karakteristik Plastik Biodegradable dengan Filler Limbah Tongkol Jagung” itu mampu meraih medali emas di Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) XXII 2009. Yesaya yang mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia ini memulai temuannya itu dengan mengeringkan limbah tongkol jagung hingga tidak memiliki kandungan air. Selanjutnya dihancurkan hingga ukuran 400 mikron. Limbah tongkol jagung yang sudah hancur ini dicampurkan ke dalam adonan biji plastik yang sebelumnya sudah dicairkan. Campuran kedua bahan tersebut diberi coupling agent yang berfungsi merekatkan kedua bahan tersebut sehingga menjadi plastik yang lebih kuat. “Komposisinya yang paling pas 85 persen biji plastik dan 15 persen dari campuran limbah tongkol jagung,” ujarnya.

Keunggulan plastik campuran limbah tongkol jagung ini adalah memiliki sifat yang ramah lingkungan. Selain mengurangi jumlah sampah, plastik karya Yesaya juga dapat dengan mudah diurai dalam tanah. Plastik normal sulit terurai dan membutuhkan waktu hingga ratusan tahun. Dengan campuran limbah tongkol, proses penguraian di dalam tanah menjadi lebih cepat. “Proses terurainya jadi lebih cepat, karena limbah jagung yang masuk tanah terurai lebih dulu, akhirnya tinggal plastiknya yang keropos dan lebih cepat terurai di tanah,” katanya. Tetapi plastik campuran limbah tongkol jagung ini memiliki sifat non food grade. Artinya, kata dia, tidak dapat digunakan sebagai pembungkus bahan makanan. Ini karena belum ada uji coba yang dilakukan oleh Yesaya terkait tingkat keamanan dari plastik tersebut. “Saya memang mendesainnya untuk plastik yang sifatnya langsung dibuang, bukan disimpan atau dijadikan pembungkus makanan,” imbuhnya.

sumber : http://www.surabayapost.co.id/

________________________________________________

subhanallah..cooool!!!

perlu dikembangkan nih. ada yang berminat mengembangkan industrinya ??